sleman – Di luar dugaan aktivitas keseharian warga yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) 3 Merapi, justeru menarik perhatian sebagian peserta Konferensi Tingkat Dunia Bidang Kegunungapian atau Cities on Volcanoes (CoV) 8. Salah satu di antaranya Hollei Gabriella.
Perempuan asal selandia baru itu mengaku takjub dengan keramahtamahan warga KRB, yang tak mencerminkan rasa ketakutan, meski tinggal di lereng Gunung Merapi.
“Saya justeru terkesan dengan warga lokal yang mau balik lagi ke tempat bekas terkena erupsi,” tutur peneliti sosial berambut pirang itu di sela kunjungan ke lereng Merapi di Cangkringan, Sleman, kemarin (11/9/14).
Sambil menengok bekas sisa rumah warga yang tinggal puing, Hollei bercerita bahwa di negara asalnya juga pernah terjadi erupsi gunung yang cukup dahsyat. Meskipun tak sebesar erupsi Merapi 2010.
Tapi, kejadian itu cukup membuat masyarakat kapok tinggal di sekitar gunung. “Tak satupun yang mau atau berani kembali. Kalau kami pilih mencari tempat aman. Kini mereka tinggal terpisah dengan lingkungan gunung,” katanya.
Hal senada diungkapkan Blenda Newhall, asal Filipina. Perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai praktisi perawat keluarga itu mengaku heran dengan karakter warga Merapi. Seolah-olah tak ada tempat lain yang bisa ditinggali senyaman rumah sendiri di kampung halaman.
“Jadi, disuruh pindah mereka tetap tak mau karena ini kampung halaman tanah kelahiran,” ungkap isteri peneliti gunung api itu.
Kondisi warga Cangkringan, lanjut Blenda, mirip dengan warga lereng gunung di negara asalnya. Hanya, permasalahan di Filipina, tempat penampungan pengungsi korban erupsi terlalu besar, sehingga terisi banyak orang. Itu yang menurutnya membuat pengungsi tak betah dan pilih kembali ke kampung halaman.
Rasa takjub juga disampaikan Takanita asal jepang. Dia lebih tertarik mempelajari rekondisi alam Merapi. Dari terkena dampak awan dan lahar panas, hingga kondisi saat ini. “Hasil pembelajaran di sini akan saya ajarkan untuk warga Jepang,” katanya. (yog/ady/laz/rdrjogja)
