Upacara Adat Baliore, Pengobatan Tradisional Desa Pesaku Luku di Sulawesi Tengah

Upacara adat Baliore (youtube: BerwisataTV)
Upacara adat Baliore (youtube: BerwisataTV)

Tengah merupakan provinsi terbesar di Pulau Sulawesi dengan luas wilayah daratan 68,033 km persegi dan luas laut mencapai 189,480 km persegi.[1] Di sana terdapat banyak pegunungan yang eksotis, sehingga menarik untuk datang. Tak hanya istimewa dengan kekayaan alamnya, Sulawesi Tengah juga menyimpan tradisi-tradisi unik yang mungkin jarang Anda ketahui, salah satunya upacara pengobatan baliore. Tradisi unik satu ini telah dijalankan sejak lama untuk mengobati keluhan penyakit warga setempat.

Sejumlah penyakit mungkin tidak bisa disembuhkan secara medis karena berbagai faktor. Untuk itu, warga Desa Pesaku Luku, Sulawesi Tengah mencoba mencari alternatif dengan menjalankan ritual adat pengobatan yang dikenal dengan baliore. Warga setempat meyakini, beberapa kondisi penyakit yang belum kunjung sembuh lantaran adanya energi dari leluhur. Energi tersebut seakan mengingatkan kembali orang yang sakit untuk bisa berkumpul dengan seluruh sanak keluarga dalam sebuah hajatan baliore.

Bacaan Lainnya

Upacara adat baliore dipimpin oleh tetua adat setempat yang memiliki kemampuan mendeteksi penyakit atau dikenal dengan sebutan neboto. Dalam upacara baliore, para neboto memberikan sugesti penyembuhan pada orang yang sakit. Dilaksanakan tiga hari dua malam, salah satu ciri khas upacara adat tersebut adalah adanya nyanyian baliore. Nyanyian ini memiliki syair yang bercerita tentang persaudaraan dan cinta kasih terhadap sesama. Nyanyian yang dikumandangkan warga itu disinyalir memberikan semangat dan energi positif pada orang yang sakit agar lekas sembuh.

Selain itu, warga yang menjalankan upacara adat baliore juga menyajikan sejumlah hidangan tertentu. Hidangan utama yang wajib tersedia adalah beras ketan empat warna. Seperti namanya, beras ketan tersebut memang dihidangkan dalam empat warna, yaitu kuning, hitam, merah, dan putih. Masyarakat pun menyajikan pisang dano dan ayam kampung bakar untuk melengkapi gelaran hajatan itu. Jika dihitung-hitung, untuk hajatan baliore, warga harus menyiapkan dana berkisar Rp5 juta.

Sayangnya, saat ini tradisi pengobatan baliore sudah jarang ditemukan. Pasalnya, kebanyakan masyarakat sudah beralih ke pengobatan medis. Namun perlu ditekankan, dalam pengobatan baliore, para neboto hanya berperan sebagai perantara, karena kesembuhan seyogyanya berasal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Tak hanya upacara pengobatan baliore. Masih ada berbagai macam adat di Sulawesi yang tetap terpelihara dan dijalankan hingga kini oleh sebagian masyarakat, meski dalam pelaksanaannya telah banyak dipengaruhi oleh segala bentuk modernitas dan peranan agama. Berikut beberapa tradisi unik di Sulawesi Tengah yang mungkin baru Anda ketahui.

Tradisi Unik di Sulawesi Tengah

Upacara Nokeso

Nokeso adalah sebuah upacara di Sulawesi Tengah bagi seorang perempuan yang telah usia baligh (nabalego). Upacara ini bisa dikatakan semacam upacara peresmian atau pernyataan bahwa seorang anak perempuan yang diupacarakan telah mengakhiri masa kanak-kanak dan memasuki masa kedewasaan. Diharapkan, si perempuan tersebut selalu menjaga dirinya, tutur kata, serta adat istiadat leluhurnya.

Upacara ini berupa menggosok gigi bagian depan hingga rata. Biasanya, pelaksanaannya dilakukan tepat sebelum seorang perempuan mengalami menarche (haid pertama). Apabila seorang gadis telah mengalami haid, biasanya orang tua akan merasa malu untuk mengupacarakannya. Namun karena tuntutan adat, upacara akan tetap dilaksanakan.

Teknis upacara ini umumnya ditentukan oleh seorang vati sesuai dengan status sosial atau warisan yang pernah diterima dari orang tuanya atau nenek moyangnya. Sementara bagi seorang keturunan bangsawan, peran vati digantikan oleh ketua dewan adat.

Baliya Jinja

Hampir mirip dengan baliore, baliya jinja merupakan upacara ritual pengobatan bersifat non-medis dan telah dikenal sejak ratusan tahun lalu oleh masyarakat Suku Kaili. Sebelum adanya rumah sakit, upacara ini diandalkan masyarakat Kaili untuk memperoleh petunjuk dari roh nenek moyang tentang cara menyembuhkan penyakit yang tengah menimpa seseorang.

Ritual akan dipimpin oleh seorang dukun atau tetua adat. Sang dukun biasanya akan mengenakan pakaian khusus berupa sarung, baju ari fuya, serta destar (tudung) berwarna merah. Dalam pelaksanaannya, tetua adat akan duduk mengelilingi seorang penderita penyakit yang diupacarakan. Sementara itu, tiga orang bertugas meniup seruling, memukul tambur, dan gong. Lirik syair yang disenandungkan berisi puji-pujian yang ditujukan kepada Yang Maha Kuasa agar berkenan menghilangkan segala gangguan setan dan jin, serta mengembalikan kesehatan seperti sediakala.

Upacara Rakeho

Tak jauh berbeda dengan nokeso, upacara ini diperuntukkan bagi kaum laki-laki masyarakat Suku Kulawi yang telah dewasa. Bentuk inti pelaksanaan upacara Rakeho adalah meratakan gigi bagian depan serata dengan gusi, baik gigi atas maupun gigi bawah. Bukan hanya untuk mencari keselamatan, upacara ini juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang berkaitan dengan keharmonisan hubungan rumah tangga.

Upacara Nopamada

Nopamada adalah sebuah upacara yang dilakukan pada saat-saat seseorang menjelang sakaratul maut, dengan seluruh keluarga berkumpul dan berjaga-jaga menjelang datangnya ajal. Bagi masyarakat Kaili, momen seperti itu adalah waktu berharga untuk hadir bersama dengan keluarga dan ikut serta menyaksikan jalannya upacara.  Tanda-tanda orang yang sedang mengalami sakaratul maut oleh masyarakat Kaili biasa disebut dengan nantapasaka.

Nompudu Valaa Mpuse

Nompudu Valaa Mpuse adalah upacara pemotongan tali pusar dari tavuni (tembuni) seorang bayi yang baru lahir. Upacara ini biasa dilakukan oleh masyarakat Palu yang dibantu oleh seorang sando mpoana (dukun beranak). Tali pusar dan tembuni oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai dua makhluk yang harus dipisahkan. Karena itu, upacara ini dilakukan dengan khidmat oleh seorang dukun bersalin agar roh tembuni tidak mengganggu bayi setelah keduanya dipisahkan.

[1] Fajar, Wisnu. 2020. Mengenal Tarian dan Seni Sulawesi. : Alprin, hlm. 2.

Pos terkait