Jadi Wisata Sejarah, Ini Peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang Wajib Dikunjungi

Peninggalan sejarah Kerajaan Siak Indrapura (sumber: gosumatra.com)
Peninggalan sejarah Kerajaan Siak Indrapura (sumber: gosumatra.

Anda yang doyan berwisata sejarah, terutama tentang seluk-beluk kerajaan di Indonesia, salah satu rekomendasi yang dapat Anda datangi adalah Siak yang berada di Provinsi Riau. Ini adalah kabupaten yang dulunya merupakan basis Kerajaan Siak Sri Indrapura. Meskipun sekarang kerajaan tersebut sudah tidak eksis lagi, masih ada sejumlah peninggalan yang unik dan dapat dijadikan sarana untuk liburan sekaligus menambah wawasan Anda.

Pada hakikatnya, berwisata adalah suatu proses bepergian sementara seseorang atau lebih menuju tempat lain di luar tempat tinggalnya.[1] Perjalanan juga dapat dikatakan sebagai suatu perubahan tempat tinggal sementara seseorang di luar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan upah atau dengan tujuan antara lain untuk mendapatkan kenikmatan dan memenuhi hasrat ingin mengetahui sesuatu.[2]

Bacaan Lainnya

Nah, apabila tujuan utama berwisata Anda adalah untuk mengetahui sesuatu atau memperluas pengetahuan, maka Anda bisa melakukan wisata sejarah. Termasuk dalam lingkup wisata sosial-, wisata sejarah biasanya mengunjungi peninggalan sejarah kepurbakalaan dan monumen, gedung bersejarah, bangunan-bangunan keagamaan, serta tempat bersejarah lainnya seperti tempat bekas pertempuran.

Di Indonesia sendiri, ada banyak daerah yang bisa Anda kunjungi untuk melakukan wisata sejarah, salah satunya Siak. Ini dulunya merupakan bagian dari Kesultanan Siak Sri Indrapura, sebuah Kerajaan Melayu Islam yang eksis sejak sekitar abad ke-18 hingga awal kemerdekaan Indonesia. Lalu, apa saja peninggalan Kerajaan Siak yang sekarang masih dapat Anda kunjungi?

Istana Siak Sri Indrapura

Istana Kerajaan Siak Indrapura (sumber: batiqa.com)

Berlokasi di Sri Indrapura, Kp. Dalam, Kabupaten Siak, Riau, istana ini memiliki lain Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur. Saat ini, Istana Siak Sri Indrapura sudah berstatus sebagai cagar budaya yang ditetapkan pada tanggal 3 Maret 2004. Terdiri dari dua lantai dan berdesain segi empat silang, arsitektur bangunannya tampak menggabungkan gaya Melayu, Arab, dan Eropa.

Punya dua lantai, ada setidaknya 15 ruangan di Istana Siak. Lantai satu terdiri dari enam ruangan, sedangkan lantai dua terdiri dari sembilan ruangan. Enam ruangan di lantai satu berfungsi sebagai tempat sidang dan ruangan untuk menerima , sedangkan sembilan ruangan di lantai dua berfungsi sebagai tempat peristirahatan sultan dan tamu-tamu kerajaan. Saat ini, Istana Siak Sri Indrapura menjadi museum tempat menyimpan benda-benda peninggalan Kerajaan Siak dengan tiket masuk cuma Rp10 ribu untuk orang dewasa.

Patung Sultan Syarif Kasim dan Ratu Wilhelmina

Patung Sultan Syarif Kasim dan Ratu Wilhelmina

Masih di dalam Istana Siak, traveler dapat menemukan dua patung ikonik, yakni patung Sultan Syarif Kasim dan Ratu Wilhelmina. Patung tersebut tidak dibuat asal-asalan, melainkan ada cerita di baliknya. Patung itu menjadi saksi bisu kedekatan antara kedua tokoh tersebut. Memang banyak cerita yang mengisahkan bahwa Sultan Syarif Kasim II memiliki hubungan khusus dengan ratu .

Juga sering ditulis Sultan Syarif Hasyim, dulu konon katanya Ratu Wilhelmina menaruh hati pada sang sultan. Penguasa Belanda tersebut jatuh cinta dengan Sultan Syarif Kasim II karena sosoknya yang gagah, rapi, cerdas, dan cinta kepada rakyatnya. Sang ratu memang pernah berkunjung ke Istana Siak dan saat itulah buih-buih cinta tumbuh di sana. Namun, kisah cinta keduanya tidak berujung indah.

Meriam Buntung

Meriam Buntung (sumber: detik)

Berfungsi sebagai museum, Istana Siak memang  masih menyimpan banyak peninggalan Kerajaan Siak, dan salah satu yang cukup unik adalah Meriam Buntung. Bentuknya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan meriam-meriam pada umumnya. Namun, ada cerita menarik di balik nama meriam yang punya panjang sekitar 1,5 meter tersebut.

Kabarnya, meriam ini pernah dicuri pada tahun 1960-an lalu. Namun, si pencuri tidak mengambilnya secara utuh, tetapi memotong meriam menjadi dua bagian dan meninggalkan bagian pangkalnya. Apes, saat hendak ke Singapura, kapalnya tenggelam di Teluk Salak. Kemudian, moncong meriam ditemukan di kapal tersebut dan dikembalikan ke tempat asalnya.

Masjid Raya Syahabuddin

Masjid Raya Syahabuddin (youtube: Riau Magz)

Warisan Kerajaan Siak Sri Indrapura lainnya yang masih berdiri tegak hingga saat ini adalah Masjid Raya Syahabuddin. Lokasinya tidak jauh dari Istana Kerajaan Siak, berkisar 200 meter saja. Karena dibangun pada masa Kerajaan Siak, maka masjid tersebut juga sering disebut dengan Masjid Kerajaan Siak, dan ada pula yang menyebutnya sebagai Masjid Raya Siak.

Penamaan Syahabuddin kabarnya berasal dari kata Syahab, salah satu suku di Arab yang dikatakan sebagai nenek moyang sultan-sultan Siak. Referensi yang lain menyebutkan bahwa penamaan masjid ini merupakan gabungan dari bahasa Persia dan Arab, yakni Syah yang berarti penguasa dan Ad-Din yang berarti agama. Apa pun itu, Masjid Raya Syahabuddin menawarkan pesona yang unik, menggabungkan arsitektur khas Timur Tengah, Melayu, dan Eropa dengan luas tapak bangunan sekitar 399 m2.

Rumah Singgah Tuan Kadi

Rumah Singgah Tuan Kadi (sumber: melayupedia.com)

Meskipun terletak di Desa Wisata Kampung Bandar Senapelan, Pekanbaru, Rumah Singgah Tuan Kadi masih merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Siak. Ini adalah rumah singgah bagi para sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura jika sedang berkunjung ke Senapelan. Dibangun pada tahun 1928, Rumah Singgah Tuan Kadi berada tepat di tepian Sungai Siak.

Sebagai rumah singgah, bangunan ini punya desain yang cukup unik. Bangunan tidak langsung menapak le tanah, tetapi disangga sejumlah tiang yang terbuat dari kayu. Jendela mengusung desain khas , yang dapat dibuka lebar ke kanan dan ke kiri. Saat ini, Rumah Singgah Tuan Kadi sudah menjadi situs cagar budaya dan sering dijadikan lokasi berbagai festival yang diadakan pemerintah setempat.

[1] Afriani, Sulisti & Neri Susanti. 2017. Analisis Strategi Pemasaran Wisata Sejarah (Rumah dan Rumah Fatmawati) di Kota . Ekombis Review Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Vol. 5(1): 25-35.

[2] Suwantoro. 2004. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: Andi, hlm. 3.

Pos terkait