Bagan Siapi-api, atau juga biasa ditulis Bagansiapiapi, merupakan salah satu kota di Provinsi Riau yang dapat Anda jadikan alternatif tempat berlibur. Memang, selama ini kota tersebut lebih populer sebagai kota nelayan dan galangan kapal. Bahkan, Bagansiapiapi pernah menjadi pelabuhan besar di dunia lantaran posisinya yang strategis di pantai timur sumatera.[1] Namun, seiring waktu, daerah ini sering dikunjungi wisatawan untuk refreshing.
Jika berbicara mengenai tempat wisata di Sumatera, mungkin tidak akan jauh-jauh dari Danau Toba di Sumatera Utara, Palembang, atau deretan pantai di Bengkulu. Padahal, masih ada Riau, sebuah provinsi yang terletak dekat dengan Malaysia dan Singapura, yang juga kaya akan spot wisata, terutama wisata alam. Jika tidak percaya Anda bisa mampir ke Bagansiapiapi.
Terletak di Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi tepatnya berada di muara Sungai Rokan, berdekatan dengan Selat Malaka yang merupakan lintas perdagangan internasional. Dulunya, kota ini terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga sempat dijuluki sebagai kota ikan. Bahkan, Bagansiapiapi pernah menjadi kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Bergen di Norwegia.
Hingga sekarang, Bagansiapiapi memang masih menjadi kota pelabuhan penting. Namun, wisatawan yang datang ke daerah tersebut tidak melulu untuk urusan bisnis. Ada juga yang berkunjung untuk mengisi waktu liburan. Pasalnya, Bagansiapiapi memang memiliki beragam objek wisata oke yang bisa menyegarkan pikiran Anda setelah sibuk dengan urusan pekerjaan.
Ritual Bakar Tongkang
Komunitas tionghoa di Bagansiapiapi termasuk besar. Bahkan, menurut salah satu sumber, orang china telah ada di kota tersebut sejak tahun 1860 silam. Versi lain menyebutkan bahwa kedatangan awal mereka ke Bagansiapiapi pada tahun 1875. Karena kekayaan ikannya yang berlimpah, orang-orang ini memutuskan tinggal dan menetap, yang akhirnya melahirkan banyak keturunan.
Nah, selain perayaan Imlek, orang Tionghoa di Bagansiapiapi juga menggelar Ritual Bakar Tongkang. Juga disebut Go Cap Lak dalam bahasa Hokkian, ini adalah event tahunan yang bertujuan menghormati para leluhur dalam menemukan Bagansiapiapi. Seiring waktu, Ritual Bakar Tongkang menarik banyak pengunjung dan akhirnya menjadi event wisata unggulan di Bagansiapiapi karena tidak dimiliki provinsi-provinsi lain.[2]
Hutan Kota Bagansiapiapi
Spot wisata lainnya di Bagansiapiapi yang bisa Anda datangi adalah Hutan Kota Bagansiapiapi. Lokasinya tidak jauh sejumlah kantor pemerintahan, seperti Dinas Perhubungan Kabupaten Rokan Hilir dan Kantor Pertanahan Kabupaten Rokan Hilir, karena cuma berselang 500 meter. Apabila traveler berangkat dari Pelabuhan Internasional Batu Empat, bisa berkendara sekitar 8 menit untuk tiba di tempat ini.
Diresmikan pada Juni 2021, Hutan Kota Bagansiapiapi menawarkan suasana yang asri berkat pepohonan dan rumah pohon di dalamnya. Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, juga telah disediakan sejumlah fasilitas seperti gazebo, panggung seni, danau buatan, jembatan, toilet umum, wahana bebek dayung, air mancur menari, hingga kantin.
Taman Kota Bagansiapiapi
Masih seputar wisata keluarga, Anda pun bisa mampir ke Taman Kota Bagansiapiapi. Lokasinya tepat berada di jantung kota, terletak di Jalan Aman, Bagansiapiapi, Rokan Hilir. Jika pelancong datang dari Kolam Renang Dewi Indah Raya, cukup berjalan kaki selama lima menit untuk tiba di taman ini. Sementara itu, apabila membutuhkan tempat bermalam, sejumlah hotel pun berjarak sangat dekat, seperti Hotel Horison Bagansiapiapi dan Hotel Lion.
Berdiri di atas seluas satu hektar, Taman Kota Bagansiapiapi cocok untuk mereka yang ingin refreshing tipis-tipis dengan biaya hemat. Pasalnya, taman ini telah dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti air mancur, permainan anak-anak, tempat istirahat, serta sejumlah tanaman. Tersedia pula banyak pedagang yang menawarkan aneka kuliner.
Rumah Kapitan
Apabila Anda menyukai sejarah, Bagansiapiapi memiliki Rumah Kapitan, sebuah bangunan peninggalan bangsa Tionghoa yang konon telah berusia lebih dari satu abad. Terletak di Jalan Mawar, Lokasinya cuma berjarak 200 meter dari Taman Kota Bagan. Di sekitar rumah tersebut juga berdiri banyak penginapan, seperti Hotel Kent, Wisma Dragon, Hotel Lion, dan Hotel Horison Bagansiapiapi.
Secara tampilan, Rumah Kapitan menggabungkan arsitektur bergaya Tionghoa dan Melayu. Sering dijadikan simbol keberagaman suku di Bagansiapiapi, ornamen kayu mendominasi bangunan, dengan sejumlah ukiran di beberapa bagian. Di dalam rumah, juga sudah ada sejumlah koleksi yang walaupun sedikit, tetapi cukup menggambarkan besarnya penguasa China pada zamannya.
[1] Isnaini, Zuli Laili. 2012. Go Cap Lak: Ritual dan Identitas Baru Etnis Tionghoa di Bagansiapiapi. Media Wisata, Vol. 7(1): 1-9.
[2] Rarasati, Gembira. 2017. Kualitas Pelayanan pada Event Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi Kabupaten Rokan Hilir Riau. JOM FISIP Universitas Riau, Vol. 4(2).
