Desa di ujung selatan Kecamatan Manyaran, Wonogiri, itu dikenal dengan nama Kepuhsari. Bagi sebagian orang, Kepuhsari mungkin hanya sekedar desa biasa. Tapi, bagi para dalang dan pecinta wayang kulit di Indonesia bahkan di dunia, Kepuhsari merupakan desa istimewa. Sebab, sejak ratusan tahun lalu, desa itu dikenal sebagai rumahnya para pembuat wayang kulit berkualitas tinggi. Wayang-wayang karya ahli tatah sungging Kepuhsari sampai saat ini masih menjadi pilihan utama para dalang dan kolektor.
Tatah sungging di Kepuhsari diyakini ada sejak abad 18 lalu. Konon, keahlian itu ditularkan kepada warga oleh seorang abdi dalem keraton Mangkunegaran asal Kepuhsari. Tatah sungging itu terus diwariskan secara turun temurun sampai sekarang dengan kualitas yang tetap terjaga. Karena itu, wayang kulit Kepuhsari tetap mampu menembus pasar barang seni di berbagai kota di Indonesia dan beberapa negara.
sejarah, eksistensi dan keberhasilan regenerasi tatah sungging di Kepuhsari belum lama ini juga mendapat perhatian khusus dari UNESCO, Badan PBB untuk bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan. Yang terbaru, awal Desember mendatang, Pemkab Wonogiri bakal mengukuhkan Desa Kepuhsari sebagai Desa Wayang (Wayang Village). Dengan konsep desa wisata, Wayang Village Kepuhsari akan “dijual” secara paket ke wisatawan mancanegara, mahasiswa seni dan budaya serta warga di kota-kota besar.
“Wayang kulit kini sudah sangat dikenal dan sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Dan sejak ratusan tahun lalu, Desa Kepuhsari punya posisi penting dalam perkembangan wayang kulit. Sudah cukup lama pula desa ini menjadi jujukan mahasiswa dari berbagai negara yang ingin belajar tatah sungging. Artinya, Kepuhsari punya modal untuk lebih berkembang. Yakni karakteristik khas berupa aktivitas tatahsungging yang diminati banyak pihak. Sekarang, kami sedang berupaya mengembangkan potensi itu agar makin menarik minat wisatawan,” kata Bupati Wonogiri Danar Rahmanto.
Tatah sungging dan beragam potensi wisata di Kepuhsari dan sekitarnya menurut Danar akan disatukan dalam paket “dagangan” Wayang Village Kepuhsari. Wisatawan akan diinapkan di rumah warga serta diajak menikmati semua sisi kehidupan khas di Kepuhsari dan sekitarnya. Di antaranya, melihat dan belajar secara privat mengenai pembuatan wayang kulit, melihat pertunjukan wayang kulit serta belajar mendalang, belajar memainkan gamelan serta menari.
Itu masih ditambah dengan belajar membuat aneka kerajinan tangan mulai dari lukis kaca hingga anyaman bambu. Kuliner khas dan wisata alam di sekitar Kepuhsari akan melengkapi isi paket wisata tersebut. “Bagi orang asing atau orang kota besar, kehidupan khas pedesaan itu menarik. Di Kepuhsari juga ada air terjun Banyu Nibo. Saya berharap, ini akan berjalan sesuai harapan sehingga akan tercipta efek domino berupa berkembangnya ekonomi kreatif di sana,” imbuh Danar.
Sementara, Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Wonogiri menyebutkan meski belum dibuka secara resmi, Wayang Village Kepuhsari sudah beberapa kali laku dijual secara paket oleh sebuah biro wisata di jakarta. Pembeli paket wisata Wayang Village Kepuhsari adalah sekolah dasar (SD) dan SMA di Jakarta.
Rombongan yang rata-rata berisi ratusan siswa itu menginap selama beberapa hari di homestay-homestay di Kepuhsari. “Mereka mengikuti semua kegiatan yang kami tawarkan di paket wisata. Selain mereka, juga banyak turis dan mahasiswa dari berbagai negara yang datang secara perorangan ke Kepuhsari,” kata Kepala Disbudparpora Senthot Sujarwoko didampingi Kasi Obyek dan Daya Tarik Wisata Edy Kristiyadi.










