Djeng Sri, di Antara Tumbuhnya Angkringan di Surabaya

  • Whatsapp

Angkringan terus membayangi keberadaan (warkop) yang lebih dulu berdiri di sejak puluhan tahun lalu. Tak hanya menyuguhkan makanan dan kopi, kini angkringan menambahkan suasana hobi komunitas. Salah satunya adalah Angkringan Djeng Sri di Jalan Semampir AWS, Kecamatan Sukolilo, yang membuat klinik bagi pengunjungnya.

BANYAK angkringan tak sekadar berada di halaman toko. Beberapa bahkan menyewa ruko. Tawaran-tawaran menarik harus bisa disuguhkan. Selain makanan yang dijual, kenyamanan dan tawaran lain harus bisa disuguhkan si empunya angkringan. Nyaman tak harus tempat yang bagus. Angkringan yang hanya ditutup terpal atau bahkan berupa gubuk tak ketinggalan menawarkan kenyamanan.

Bacaan Lainnya

Itulah yang terlihat di Angkringan Djeng Sri. Di angkringan yang mengedepankan bangunan bambu layaknya gubuk mewah alias mepet sawah tersebut, pengunjung tak hanya bisa menikmati khas, wedang uwuh yang memiliki nama lain bir . Itu merupakan minuman herbal perpaduan jahe, kapulaga, serai, kayu manis, pandan, daun salam, kayu secang, dan bahan lainnya.

Lihat Juga:   Biaya ke Pulau Angso Duo, Kawasan Eksotis di Pariaman

Wedang uwuh membuat tubuh hangat. Wedang uwuh merupakan minuman raja-raja Jogjakarta pada masa lampau. Minuman tersebut pas untuk menjaga kondisi tubuh. Aneka sate-satean, nasi kucing, serta minuman pendukung lainnya juga ditawarkan Djeng Sri.

“Yang mebuat beda Angkringan Djeng Sri dengan angkringan lain adalah keberadaan klinik fotografi. Banyak mahasiswa dari UKM (unit kegiatan mahasiswa, Red) fotografi beberapa kampus yang datang untuk sharing karya maupun teknik pengambilan foto,” kata Ali Masduki, salah seorang pemilik Angkiran Djeng Sri.

Latar belakang sebagai fotografer salah satu harian nasional di tanah air membuat Ali mampu memberikan tip-tip fotografi. Apalagi, bapak dua anak yang berambut gondrong tersebut kerap memberikan materi pendidikan kilat (diklat) fotografi. Banyak fotografer media cetak lainnya yang juga datang. Tak sekadar menikmati kopi kemiren Banyuwangi, mereka juga mengobrol santai soal fotografi.

Lihat Juga:   Wajib Kunjung, Ini Objek Wisata Hits di Nusa Penida

Tak heran, di Djeng Sri ada beberapa karya foto yang dipajang. Foto-foto tersebut digantung dengan kawat yang dikaitkan pada bangunan bambu. “Klinik fotografi adalah salah satu kegiatan di Djeng Sri. Pada hari-hari tertentu ada khusus agar ngopi dan nangkring di angkringan bisa terasa lebih gayeng. Ada jagung bakar, ketan parutan kelapa, gorengan fresh tur anget, dan lainnya,” papar Nano Prayitno, partner Ali dalam menjalankan Djeng Sri.

Bersama seorang temannya lagi, Cak Nawi, keduanya ingin menambah lapak Djeng Sri. “Dibukanya lapak-lapak yang berikutnya hanya soal waktu. Perlengkapan sudah siap,” ungkap Ali. Ada sejumlah dosen fotografi di beberapa kampus yang ingin membawa mahasiswanya ngopi sembari ngobrol fotografi. Di antara sekian banyak mahasiswa yang datang, ada yang berasal dari Communication Photography Club (Ciphoc) Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Surabaya dan UKM foto dari kampus lain. (*/c1/hen/jpnn)

Umi Hany Akasah – Wartawan Radar Surabaya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan