Gunung Semeru merupakan salah satu gunung berapi Indonesia yang terletak di Propinsi Jawa Timur. Secara administratif, gunung ini berada dalam dua wilayah kabupaten, yakni Kabupaten malang dan Kabupaten Lumajang, serta termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dalam bentangan geografis, posisi semeru terletak antara 8°06′ LS dan 112°55′ BT.

Dengan puncaknya Mahameru yang setinggi 3.676 mdpl, praktis membuat Gunung Semeru menjadi gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa. Gunung ini juga masuk dalam daftar 3 besar gunung berapi tertinggi di Indonesia, setelah Gunung kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.
Secara umum, iklim di wilayah Gunung Semeru digolongkan sebagai type B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan berkisar 927 – 5.498 mm per tahun dan jumlah hari hujan 136 hari per tahun. Musim hujan biasanya jatuh pada bulan November – April. Oleh sebab itu, pendakian Gunung Semeru sebaiknya dilakukan pada bulan Juni, Juli, Agustus, atau September, yakni bertepatan dengan saat musim kemarau untuk menghindari terjadinya tanah longsor dan badai yang dapat mengancam jiwa para pendaki.
Suhu udara rata-rata Gunung Semeru berkisar antara 15-21 derajat Celcius pada siang hari dan bergeser menjadi 3°c – 8°c pada malam atau dini hari. Suhu di lingkungan puncak Gunung Semeru sedikit lebih rendah lagi, yakni berkisar 0 – 4 derajat celsius. Terkadang, Anda dapat menemukan momen hujan salju kecil yang menjadi penanda peralihan musim hujan ke musim kemarau, atau sebaliknya.
Gunung Semeru memiliki beberapa kawasan hutan, yakni hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous (hutan gunung). Flora yang tumbuh di wilayah Semeru didominasi oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Berpindah ke bagian lereng menuju puncak Semeru, banyak ditemukan Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong, Edelwiss putih, hingga beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan. Sedangkan untuk berbagai jenis fauna yang menghuni kawasan Gunung Semeru antara lain adalah macan kumbang, budeng, luwak, kijang, kancil, dan burung belibis yang hidup secara liar.
Banyak anjuran yang mengisyaratkan agar para pendaki tidak naik ke puncak Gunung Semeru (puncak Mahameru), terutama di siang hari. Alasannya sederhana, yakni supaya para pendaki terhindar dari bahaya menghirup gas beracun ataupun terkena aliran lahar panas.
Gas beracun ini biasa disebut “Wedhus Gembel” oleh warga setempat. Kata “Wedhus Gembel sendiri diambil dari bahasa jawa yang memiliki arti ‘kambing gimbal’, yakni kambing yang berbulu lebat dan ikal. Sedangkan material yang keluar akibat letusan Gunung Semeru terlihat seperti asap berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan tinggi mencapai 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan berisi abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala. Di siang hari, gas beracun bersama dengan material letusan Gunung Semeru akan naik ke puncak Mahameru, sehingga akan sangat berbahaya untuk para pendaki.






