Bali telah tersohor sebagai spot wisata populer di kalangan wisatawan dalam negeri maupun internasional. Pasalnya, selain memiliki panorama alam yang mengagumkan, pulau Dewata juga punya atraksi seni dan budaya yang keren, salah satunya Tari Kecak. Nah, salah satu pertunjukan Tari Kecak bisa Anda saksikan di Desa Batubulan, yang biasanya dijadwalkan setiap malam.
Jika Anda jalan-jalan ke Bali, memang tidak lengkap rasanya jika tidak menyempatkan berkunjung ke Desa Batubulan. Desa Batubulan sendiri merupakan sebuah desa yang berlokasi di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Desa ini merupakan kawasan pariwisata dengan suguhan utama berupa pertunjukan budaya Tari Barong, Tari Legong, hingga Tari Kecak.
Sejarah Desa Batubulan bermula dari sebuah cerita seorang Dewa Agung Kalesan, anak angkat dari Raja Badung. Ketika dirinya menginjak dewasa, Dewa Agung Kalesan konon diberi kemurahan oleh Raja Badung untuk mendirikan istana sendiri yang terletak di tengah hutan. Akhirnya, ia bersama pengikutnya menuju hutan yang berada di kawasan timur Kerajaan Badung. Ketika tiba di perbatasan hutan, Dewa Agung Kalesan menyaksikan sebuah batu yang bercahaya laksana bulan. Kemudian, Dewa Agung Kalesan memutuskan mendirikan istana di tempat tersebut dan dinamakan Batubulan.
Desa Batubulan terbagi menjadi tiga desa adat, yaitu Desa Adat Tegaltamu, Desa Adat Jero kuta, dan Desa Adat Dlod Tukat. Di sepanjang jalan desa ini, wisatawan bakal menjumpai banyak galeri atau toko kesenian. Ini tidak lepas dari kelihaian penduduk setempat dalam mengukir serta memahat patung yang merupakan warisan sejak turun-temurun. Anda bisa melihat dan memilih koleksi patung-patung atau karya seni untuk dibeli sebagai pajangan di rumah yang artistik.
rute menuju Desa Batubulan sangat mudah karena lokasi desa yang berada di jalur strategis antara Kota Denpasar dan Gianyar. Jika Anda ingin bepergian ke Kintamani, Anda pasti akan melewati jalur Desa Batubulan. Karena itu, tidak mengherankan jika kemudian banyak wisatawan yang mampir ke desa ini untuk lebih mengetahui keindahan seni yang dimiliki Desa Batubulan.
Tari Kecak di Batubulan
Seperti diutarakan di atas, selain menghadirkan pahatan seni bernilai tinggi, Desa Batubulan juga kerap menyajikan pertunjukan tarian tradisional Bali, salah satunya Tari Kecak. Dilansir dari Wikipedia, Kecak adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang terutama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan oleh laki-laki. Tarian ini menggambarkan kisah Ramayana ketika barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Sementara itu, situs Pegipegi.com menuliskan bahwa Tari Kecak biasa juga disebut sebagai Tari Cak atau Tari Api. Tarian ini merupakan tarian pertunjukkan hiburan masal yang menggambarkan seni peran dan tidak diiringi oleh alat musik atau gamelan. Namun, hanya diiringi oleh paduan suara sekelompok penari laki-laki berjumlah sekitar 70 orang yang berbaris melingkar memakai kain penutup kotak-kotak berbentuk papan catur. Tarian ini sangat sakral, terlihat dari penarinya yang terbakar api, namun mengalami kekebalan dan tidak terbakar.
Selain itu, Tari Kecak. juga sering disebut sebagai Tari Sanghyang, yang dipertunjukkan sewaktu-waktu ketika ada upacara keagamaan. Penari biasanya ‘kemasukan roh’ dan bisa berkomunikasi dengan para dewa atau para leluhur yang telah disucikan. Penari tersebut dijadikan sebagai media untuk menyatakan sabda-Nya. Saat kerasukan, mereka juga akan melakukan tindakan yang di luar dugaan, seperti melakukan gerakan berbahaya atau mengeluarkan suara yang mereka tidak pernah keluarkan sebelumnya.
Masih menurut sumber yang sama, Wayan Limbak disebutkan sebagai sosok yang menciptakan Tari Kecak. Pada tahun 1930, Limbak dikatakan sudah memopulerkan tarian ini ke mancanegara dan dibantu oleh Walter Spies, pelukis asal Jerman. Para penari laki-laki yang menari Kecak akan meneriakkan kata ‘cak cak cak’. Dari situlah nama Kecak tercipta. Selain teriakan tersebut, alunan musik Tari Kecak juga berasal dari suara kerincing yang diikatkan pada kaki penari pemeran tokoh-tokoh Ramayana.
Tari Kecak sendiri memiliki banyak fungsi dan pesan moral, di antaranya:
- Mengandung nilai seni yang tinggi meskipun tidak diiringi musik atau gamelan. Gerakan para penari bisa tetap seirama yang membuatnya dicintai para turis. Rasanya ada yang kurang ketika berkunjung ke Bali tanpa menyaksikan tarian ini.
- Di Tari Kecak, ada adegan ketika Rama meminta bantuan para Dewa. Hal tersebut membuktikan bahwa Rama memercayai kekuatan Tuhan untuk menolong dirinya. Tari Kecak juga dipercaya sebagai salah satu ritual untuk memanggil dewi (Dewi Suprabha atau Tilotama) yang bisa mengusir penyakit dan melindungi warga dan kekuatan jahat.
- Tari Kecak sempat memperoleh penghargaan MURI pada tanggal 25 Februari 2018 lalu karena berhasil membuat pertunjukan di Pantai Berawa dengan melibatkan 5.555 orang penari, termasuk siswa dan siswi di Kabupaten Badung, Bali.
Tari Kecak sebenarnya bisa disaksikan para wisatawan di sejumlah tempat di Bali. Namun, spot pertunjukan yang paling populer di kalangan pelancong adalah Tari Kecak yang dipentaskan setiap sore di Uluwatu, menjelang matahari terbenam. Selain itu, pertunjukan Tari Kecak di Desa Batubulan juga cukup ramai didatangi wisatawan lokal dan asing.
Jadwal Tari Kecak di Batubulan
Dirangkum dari berbagai sumber, pertunjukan Tari Kecak di Desa Batubulan dilakukan setiap hari mulai pukul 18.00 sampai 19.00 WITA atau 18.30 sampai 19.30 WITA. Sementara, untuk Tari Legong, Tari Barong, dan Tari Keris, biasanya dipentaskan pada pagi hari, yaitu sekitar pukul 09.30 sampai 10.30 WITA setiap harinya.

harga Tiket Tari Kecak di Batubulan
Untuk bisa menyaksikan pertunjukan Tari Kecak di Batubulan, pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk. Tiket pertunjukan Tari Kecak ini bisa Anda beli di berbagai agen travel atau perjalanan di Bali dengan harga berkisar Rp60 ribu sampai Rp100 ribuan per orang untuk turis dewasa. Sementara, harga tiket untuk wisatawan anak-anak berkisar Rp40.000 hingga Rp80.000 per orang.






